Selamat Jalan Sahabat

Posted on 11:05 PM | By idiots boys | In

Sekujur tubuhku lemas tak berdaya, namun aku berusaha untuk tetap bertahan walaupun air mata ini  sepertinya sudah blong remnya. polisi itu mengatakan bahwa sahabatku telah pergi, aku sempat tidak percaya, namun motor yang ditunjukan polisi itu memang benar adanya, itu motor yang ia kendarai saat berpamitan ingin keluar menemui temannya.
Malam itu aku barusaja pulang bersama teman lamaku yang sudah lama ndak ketemu, aku melihatnya didepan istanaku, disebuah bangku dengan sebotol minuman berwarna merah, saat itu ia terlihat sedang agak murung, mungkin sedang ada masalah pikirku dalam hati, lalu kami bertiga duduk santai bersama didepan istana kami, sesekali aku sambil memetik gitar tua  ku yang bunyinya sangat indah, kami menyanyikan lagu yang ia juga menyukai lagu itu, Padi "Semua tak sama". tak lama setelah itu teman lamaku pun berpamitan untuk pulang. hanya tinggal kami berdua, kami bercerita tentang mimpi-mimpi kami. ia mengatakan ia akan melakukan bisnis sapi setelah lulus kuliah ini, ia mengatakan " bisnis sapi itu ndak ada yang terbuang, semuanya berguna, kotorannyapun kita bisa jadikan kompos, pertanian itu akan selalu hidup, gak bakalan mati. Namun semua itu hanya tinggal angan2 kami, ia pergi meninggalkan dunia ini sekitar pukul 1.00 dini hari.

Hari Terberat Dalam Hidupku

Posted on 7:52 AM | By idiots boys | In

Hari ini aku terbangun jam 9 pagi.... Seperti biasanya aku suka sekali minum kopi dipagi hari, meskipun orang bilang ini sudah siang, tapi buat aku jam 9 itu masih pagi. seperti biasanya juga, aku suka music, sama seperti pagi ini, music juga mengalun keras diistanaku. aku tidak pernah perduli dengan tetangga kalo soal music, tidak siang tidak malam aku selalu memutar music kesanyanganku sesukaku.

Menit demi menit kulalui denga santai, tanpa perduli kalau mungkin orang sudah mengecapku sebagai pemalas tingkat tinggi. Ditengah suara music yang mengalun ada suara yang memanggilku, yang tidak lain adalah teman sebelah istanaku. Namanya Surya. Bangun Surya Saputra. Tapi aku lebih sering memanggil dia dengan nama BELUK. mungkin aku belum pernah memanggil dia secara langsung dengan nama aslinya, sejak awal aku sudah memanggilnya dengan sebutan itu. Hari ini adalah hari minggu tanggal 26 september 2010. seminggu setelah kembaliku dari serumpun sebelukar tercinta, atau yang mungkin orang lebih banyak mengenalnya dengan negeri laskar pelangi, Bangka Belitung. Beluk memanggilku dengan panggilan TID, yang tidak lain adalah TITID ( disensor ).

Saat itu ia bertanya padaku, minggu gini enaknya ngapain ya ( dengan bahasa jawa ), lalu dia duduk disampingku. lama kita berbincang hingga hari sudah siang, lalu kami makan soto di warung depan istanaku. aku melihat dia makan banyak sekali, tapi hari itu juga aku melihat ada yang berbeda diwajahnya. setelah makan aku membantunya memasang LCD yang baru ia beli, cukup lama kami memasangnya, saat itu teman2 yang lain pun juga ada. setelah selesai memasangnya ia terlihat cukup senang dengan tertawanya yang khas, aku yakin tidak akan ada yang bisa menirukan tertawanya. saat itu aku sempat mengejeknya, wah kamu bakal betah diistanamu donk! kembali aku melihat senyumnya yang khas. Namun semua kesenangan itu terhapus begitu hari beranjak kehari berikutnya. aku dikejutkan dengan kabar bahwa ia kecelakaan, aku pun bergegas mencarinya dengan berkeliling kota solo, sama seakli tidak pernah terlintas dibenakku ditengan malam aku mendatangi kantor poltabes surakarta, bahkan itu pertama kali aku menginjakan kaki ditempat yang aku benci selama ini. malam itu aku bertanya pada seseorang yang bertugas namun jawabanya membuatku kecewa karna mereka tidak mengetahiu berita kecelakaan, namun dalam hatiku merasa sedikit senang karena aku berharap berita kecelakaaan itu tidak benar. Namun petugas yang ada disana mengatakan "coba tanayakan disatlantas banjarsai".